Berbuat Baik antar Sesama

Memahami Konsep Islam Rahmatan Lil Alamin

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
 

    ISLAM bukan sekadar agama yang mengatur hubungan antara hamba dengan penciptanya (hablum minal Khâliq), akan tetapi juga sesama makhluk (hablun minal makhlûq).  Hubungan itu dapat terwujud melalui sikap berkasih sayang, saling menghormati dan tolong menolong tanpa membedakan suku, budaya, bahasa, warna kulit dan agama. Misi di balik slogan rahmatan lil’alamîn (rahmat bagi seluruh alam) ialah untuk memperoleh hak yang sama (egaliter) baik dalam kedudukan, berpendapat dan tugas serta kewajiban. Adapun yang menjadi pembeda ialah nilai ketakwaan.

Sebagai agama yang mengakomodir seluruh lini kehidupan, Islam datang menyemai benih-benih cinta (mahabbah) , ketentraman (sakînah) dan kasih sayang (rahmat) baik kepada sesama manusia, hewan maupun kepada lingkungan.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

﴿ وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧ ﴾

Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiyâ’ [21] 107).

Bertolak dari ayat di atas, ajaran yang diseru baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ditujukan kepada etnis arab saja, melainkan kepada seluruh penduduk bumi. Pemilihan diksi rahmat sebagai isyarat bahwa Islam tidak pernah mengajarkan diskriminasi, selama ia adalah ciptaan Allah Subhanahu Waatala maka berhak untuk dihargai. Sikap ini tercermin saat baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sontak berdiri saat jenazah Yahudi melintas di depannya. 

Apa yang dicontohkan itu merupakan ajaran yang sangat mulia. Seseorang yang sudah meninggal sekalipun tetap dihormati walau beda agama. Keluhuran ajaran Islam bukan sekadar konsep yang bertengger di dalam kepala, melainkan penerapan dalam kehidupan nyata. Jadi dengan demikian, visi rahmatan lil ‘alamîn benar-benar akan membumi dan dirasakan oleh siapa saja.


Selain menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia, Islam juga menekankan untuk berlemah lembut kepada hewan sebagai partner manusia di dunia. Tanpa keberadaan hewan kehidupan manuasia jauh dari sempurna, sebab kontribusi dan jasanya dalam kelangsungan tak bisa dipandang sebelah mata. Maka oleh sebab itu, baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam tegaskan jangan pernah menyakiti hewan. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Dari Abdullah bin Amr ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rahman, berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada dibumi, niscaya Yang ada di langit akan mengasihi kalian. (HR. Tirmizi)

Kalimat ‘berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada dibumi’ sebuah lafaz umum yang menunjukkan bukan hanya kepada sesama, melainkan kepada seluruh makhluk termasuk hewan, non-muslim dan lingkungan. Karena itu, para ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil bahwa Islam mengajarkan kasih sayang yang bersifat universal. (Al-Qurthubî, Al-Asnâ fi syarhi asâilhusnâ wa shifâtihi, hlm 411).

Dalam sebuah riwayat dikisahkan seseorang wanita dari kalangan Bani Israil mendapat azab di akhirat karena mengurung kucing hingga mati kelaparan. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ، حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ، لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

Seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati. Ia masuk neraka karenanya. Ia tidak memberinya makan, tidak memberinya minum, dan tidak pula melepaskannya agar dapat memakan binatang-binatang kecil di tanah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa hewan memiliki hak egaliter dengan manusia, mereka berhak mendapatkan tempat yang layak, makan dan minum. Memperlakukannya secara zalim termasuk dosa besar, hanya saja mereka tidak mampu berbicara. Siapa yang hobi memelihara hewan hendaklah memberikan hak-haknya, jangan sampai menyiksa atau membiarkan mereka mati kelaparan.   

Selain itu, memelihara lingkungan mencakup makna rahmatan lil âlamîn. Seorang muslim tidak hanya diperintah memperhatikan tetangga dan hewan peliharaannya saja, akan tetapi harus menjaga kebersihan lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara liar, atau mencemari sungai dan sumber-sumber air. Sebab Tindakan tersebut dapat merusak kelestarian alam yang dapat berakibat memburuknya ekosistem.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

﴿ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦ ﴾

Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Arâf [7] 56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan teladan dalam menjaga lingkungan. Beliau melarang perbuatan yang dapat mencemari jalan, tempat berteduh, dan sumber air yang digunakan masyarakat. Selain itu, ayat di atas menekankan untuk tidak melakukan kerusakan dalam bentuk apapun. (Umar bin 'Alî al-Hanbalî, Al-Lubâbu fi Ulûmil kitâb, hlm 211)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang-orang yang merusak lingkungan. Para sahabat bertanya, "Apakah dua perkara yang mendatangkan laknat itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:

الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

Orang yang buang hajat di jalan yang dilalui manusia atau di tempat mereka berteduh. (HR. Muslim). 
Hari ini kita saksikan sungai-sungai meluap disebabkan tumpukan sampah yang sudah menahun, banjir bandang meluluhlantakkan kampung-kampung akibat penebangan pohon dalam jumlah yang besar, dan tercemarnya sungai karena limbah pabrik yang tak terkontrol. Bila realita ini tidak segera diakhiri, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kerusakan yang lebih besar. Oleh sebab itu, ajaran Islam seharusnya tidak berkutat pada hubungan dengan Allah subhânahu wata’âla, tetapi juga diterapkan secara komprehensif dalam kehidupan.

Allah subhânahu wata’âla berfirman:

﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١ ﴾

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rûm [30] 41)


Ayat ini merupakan fakta yang tak terbantahkan, segala bentuk kerusakan yang terjadi ulah tangan manusia. Akibat dari itu semua, manusia merasakan akibat berupa bencana dan musibah yang datang bertubi-tubi sebagai pengingat dari Allah subhânahu wata’âla. 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kehadiran Islam tidak hanya mengatur urusan dengan Allah Subhânahu Waatala semata, melainkan bagaimana berinteraksi sesama manusia, berprilaku baik dengan hewan dan menjaga kelestarian alam. Jika semua itu terwujud dalam kehidupan, maka slogan rahmatan lil âlamîn benar-benar berhasil diaplikasikan dengan baik.***
 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar